MENGGUGAT STATUS QUO PENDIDIKAN
MENGGUGAT STATUS QUO PENDIDIKAN
Oleh: Mansur Arsyad
Insan pendidikan hampir pasti mengenal—setidaknya secara gagasan—siapa Jean Piaget. Dialah arsitek besar konstruktivisme, psikolog perkembangan yang mengajarkan kepada dunia bahwa pengetahuan tidak ditanamkan, melainkan dibangun; bahwa belajar bukan proses menerima, melainkan proses menjadi. Melalui konsep skema, asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrasi, Piaget menggeser pendidikan dari sekadar transmisi informasi menuju kerja batin kesadaran yang aktif dan otonom.
Ironisnya, Jean Piaget sendiri
tidak pernah benar-benar terobsesi pada metode pembelajaran. Bagi sang maestro,
“metode” kerap menjelma menjadi belenggu—menjebak guru menjadi sekadar operator
di lini produksi pedagogik. Ia bukan anti-metode; ia hanya menolak tunduk pada
cara berpikir mekanistik yang mereduksi pendidikan menjadi prosedur teknis di
ruang pedagogik yang sejatinya harus membebaskan.
Maka ketika rekannya, Jean-Claude
Bringuier, mencoba menyematkan label “metode” pada pemikirannya, Piaget
menjawab singkat dan tegas: “Tidak.”
Penolakan itu bukan retorika atau
sekadar basa basi. Ia adalah pernyataan oposisi epistemologis terhadap struktur
berpikir mekanistik yang—selama berabad-abad—menjajah dunia pendidikan dan
membingkai belajar sebagai proses penyeragaman.
Jebakan Status Quo
Dalam narasi pendidikan modern,
kita kerap terjebak dalam logika pabrik: menetapkan prototipe dalam bentuk
profil lulusan, merancang rencana dan proses pengajaran yang seragam, lalu
menyuplai materi seolah-olah sedang menyuntikkan bahan bakar ke dalam mesin.
Murid diperlakukan sebagai unit produksi, guru sebagai teknisi, dan kurikulum
sebagai cetak biru yang tak boleh menyimpang.
Bagi Piaget, ini bukan sekadar
kekeliruan pedagogik, melainkan pengkhianatan terhadap hakikat manusia.
Jika tujuan pendidikan hanya agar
anak mampu beradaptasi dengan dunia yang sudah ada, maka pendidikan tak lebih
dari alat pelanggeng status quo. Alhasil, kita tidak sedang mendidik manusia;
kita sedang memproduksi sekrup-sekrup baru untuk mesin lama yang sesungguhnya
telah usang.
Piaget mengingatkan kita dengan
kalimat yang hingga kini tetap menyentak kesadaran pedagogik:
“The principal goal of
education in the schools should be creating men and women who are capable of
doing new things, not simply repeating what other generations have done.”
Gema dari
"Recherche"
Gagasan Piaget tentang pendidikan
menemukan artikulasinya yang utuh dan otentik dalam novel intelektualnya,
Recherche. Melalui tokoh Sebastian, Piaget menyingkap satu kebenaran mendasar:
pengetahuan bukanlah barang jadi yang bisa disuplai, ditransfer, atau
dititipkan. Ia lahir dari pencarian batin—sebuah pergulatan internal menuju
ekuilibrasi, keseimbangan antara struktur kognitif diri dan realitas semesta.
Pendidikan, dengan demikian,
adalah tentang invensi, bukan replikasi. Ketika seorang anak memahami sesuatu,
ia tidak sekadar menerima informasi; ia sedang menemukan kembali dunia dan
kesadarannya sendiri. Bahkan penciptaan yang dalam taksonomi Benjamin Bloom
mula-mula disebut sebagai sintesis—dan dalam revisi Lorin Anderson dkk.
dimaknai ulang sebagai create—tetaplah penciptaan, betapapun ia tampak
sederhana. Sebab ia lahir dari proses kognitif yang otonom, yang tak pernah
dapat digantikan oleh hafalan atau instruksi.
Momen “menemukan sendiri” inilah
saat pengetahuan merasuk ke dalam jiwa, berdiam, dan akhirnya menetap sebagai
kesadaran. Dan, di sanalah belajar berhenti menjadi aktivitas teknis dan
menjelma menjadi pengalaman eksistensial. Itulah hakikat pendidikan yang
sesungguhnya.
Vygotsky: Pengagum dan
Pengkritik
Lev Vygotsky hadir “menjumpai”
Piaget dengan membawa kekaguman sekaligus kritik, sembari menyodorkan dimensi
sosial dan kultural yang tak bisa diabaikan. Pertanyaannya menyentak: dapatkah
seorang pencipta lahir jika ia dibiarkan sendirian di laboratorium pikirannya?
Vygotsky mengingatkan bahwa untuk melampaui status quo, seorang anak
membutuhkan bahasa dan dialog. Jika Piaget adalah api invensi yang menyala dari
dalam, maka Vygotsky adalah oksigen budaya yang memungkinkan api itu berkobar
lebih besar. Invensi Piagetian membutuhkan scaffolding Vygotskyan.
Guru, dalam kerangka ini, tidak
boleh sekadar diam menonton—tetapi juga tidak selayaknya mendikte. Ia harus
menjadi maestro: tahu kapan membiarkan murid bergulat dalam kesunyian
Recherche, dan kapan menyodorkan perancah intelektual agar sang murid mampu melampaui
batas dirinya melalui Zone of Proximal Development.
Menuju Pedagogi Otentik
Mengubah struktur berpikir
mekanistik berarti berani meruntuhkan cetakan-cetakan kaku di ruang kelas. Kita
perlu berhenti bertanya, “Apakah murid ini sudah sesuai dengan profil yang kita
siapkan?” dan mulai mengajukan pertanyaan yang lebih jujur dan menantang:
“Apakah hari ini saya telah memberi ruang baginya untuk menjadi seorang
penemu?”
Pendidikan yang sejati adalah
tarian antara otonomi dan mediasi. Ia tidak linier, tak dapat diprediksi secara
mekanis, namun selalu bergerak menuju satu tujuan: kemerdekaan berpikir.
Sebagaimana kredo Piaget yang
kerap dikutip namun jarang dihayati sepenuhnya: “To understand is to invent.”
Pada akhirnya, tugas guru
bukanlah menjadi pengrajin yang membentuk tanah liat sesuai pesanan zaman,
melainkan menjadi saksi—sekaligus bidan intelektual—bagi lahirnya jiwa-jiwa
pencipta: mereka yang kelak berani meruntuhkan status quo dan membangun dunia
yang baru

Comments
Post a Comment